PENDAHULUAN
A.Latar
Belakang Masalah
Setiap masyarakat bahasa memiliki
cara yang digunakan untuk mengungkapkan gagasan dan perasaan, atau untuk
menyebutkan benda-benda yang ada di sekitarnya. Kata-kata yang dihasilkan
melalui kesepakatan masyarakat umumnya mencukupi keperluan tersebut.Namun,
manakala terjadi hubungan dengan masyarakat bahasa lain, sangat mungkin muncul
gagasan atau konsep yang datang dari luar budaya masyarakat tersebut.
Bahasa
Indonesia sejak awal
pertumbuhannya hingga sekarang
telah banyak menyerap unsur-unsur asing, terutama dalam hal kosakata. Bahasa asing yang memberi pengaruh
kosa kata dalam bahasa Indonesia antara lain yaitu bahasa Sanskerta, bahasa Belanda, bahasa Arab,
dan bahasa Inggris. Masuknya unsur-unsur asing ini secara
historis juga sejalan dengan kontak budaya antar bangsa Indonesia dengan
bangsa-bangsa pemberi pengaruh. Unsur-unsur asing ini telah menambah sejumlah
besar kata ke dalam bahasa Indonesia, sehingga bahasa Indonesia mengalami perkembangan sesuai
dengan tuntutan zaman. Sejalan dengan perkembangan itu, muncullah masalah-masalah kebahasaan. Ada kosakata yang
diserap secara utuh tanpa mengalami perubahan dan penyesuaian,
dan ada pula
kosa kata yang diserap dengan mengalami sejumlah
penyesuaian.
Dalam makalah ini, kami akan
membahas mengenai konsep dasar penyerapan unsur asing dan pembakuan istilah
bahasa Indonesia.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
pemaparan
dari latar belakang tersebut, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana
penulisan unsur serapan dalam bahasa Indonesia?
2. Bagaimana
cara penyerapan unsur bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia?
3. Bagaimana
ketentuan umum pembentukan istilah bahasa Indonesia?
4. Bagaimana
proses pembentukan istilah bahasa Indonesia?
5. Bagaimana
aspek tata bahasa peristilahan dalam bahasa Indonesia?
6. Bagaimana aspek
semantik peristilahan dalam bahasa Indonesia?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah
tersebut, maka tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.
Memahami
penulisan unsur serapan dalam bahasa Indonesia.
2.
Mengetahui cara
penyerapan unsur bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia.
3.
Memahami
ketentuan umum pembentukan istilah bahasa Indonesia.
4.
Mengetahui
proses pembentukan istilah bahasa Indonesia.
5.
Mengetahui aspek
tata bahasa peristilahan dalam bahasa Indonesia.
6.
Mengetahui aspek semantik peristilahan dalam bahasa
Indonesia.
BAB. II
PEMBAHASAN
A.
Penulisan Unsur Serapan
Dalam perkembangannya, bahasa
Indonesia menyerap unsur dari berbagai bahasa. Baik dari bahasa daerah seperti
bahasa Jawa, Sunda, dan Bali, maupun dari bahasa asing seperti bahasa
Sanskerta, Arab, Portugis, Belanda, Cina, dan Inggris. Berdasarkan taraf
integrasinya, unsur serapan dalam bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi dua
kelompok besar. Pertama, unsur asing yang belum sepenuhnya terserap ke dalam
bahasa Indonesia, seperti force majeur,
de facto, de jure, dan l’exploitation
de l’homme par l’homme. Unsur-unsur tersebut dipakai dalam konteks bahasa
Indonesia, tetapi cara pengucapan dan penulisannya masih mengikuti cara asing.
Kedua, unsur asing yang penulisan dan pengucapannya disesuaikan dengan kaidah
bahasa Indonesia.Dalam hal ini, penyerapan diusahakan agar ejaannya diubah
seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk
aslinya.
Kaidah ejaan yang berlaku bagi unsur serapan adalah
sebagai berikut:
a
(Arab,bunyi pendek atau bunyi panjang) menjadi a (bukan o)
mazhab(مذهب)
mazhab
sahabat (ØµØØ§Ø¨Ø©) sahabat
'umrah (عمرة) umrah
aa (Belanda)
menjadi a
octaaf oktaf
ae, jika bervariasi
dengan e, menjadi e
haemoglobin hemoglobin
haematite hematit
ai tetap ai
trailer trailer
au tetap au
audiogram audiogram
autotroph autotrof
c di depan a, u, o, dan konsonan menjadi k
construction konstruksi
classification klasifikasi
crystal kristal
c di depan e, i, oe dan y menjadi s
central sentral
circulation sirkulasi
cylinder silinder
cc di depan o, u, dan konsonan menjadi k
accomodation akomodasi
acculturation akulturasi
accumulation akumulasi
cc di depan e dan i menjadi ks
accent aksen
accessory aksesori
cch dan ch di depan a, o, dan konsonan menjadi k
charisma karisma
chromosome kromosom
ch yang lafalnya s atau sy menjadi s
machine mesin
ch yang lafalnya c menjadi c
chip cip
ck menjadi k
check cek
ticket tiket
e tetap e
effect efek
description deskripsi
ea tetap ea
idealist idealis
ee (Belanda) menjadi e
statosfeer statosfer
systeem sistem
eo tetap eo
stereo stereo
geometry geometri
eu tetap eu
neutron neutron
eugenol eugenol
f tetap f
fanatic fanatik
factor faktor
i pada awal suku kata di depan vokal tetap i
ion ion
ie (Belanda) menjadi i jika lafalnya i
politiek politik
riem rim
ie tetap ie jika lafalnya bukan i
variety varietas
hierarchy hierarki
ng tetap ng
congres kongres
linguistics linguistik
oo (Belanda) menjadi o
komfoor kompor
provoost provos
oo (Inggris) menjadi u
cartoon kartun
oo (vokal ganda) tetap oo
coordination koordinasi
ph menjadi f
phase fase
psysiology fisiologi
q menjadi k
aquarium akuarium
frequency frekuensi
rh menjadi r
rhythm ritme
rhetoric retorika
sc di depan a, o, u, dan konsonan menjadi sk
scandium skandium
sclerosis sklerosis
sc di depan e, i, dan y menjadi s
scenography senografi
scyphistoma sifistoma
sch di depan vokal menjadi sk
schema skema
scholastic skolastik
t di depan i menjadi s jika lafalnya s
ratio rasio
th menjadi t
orthography ortografi
methode(Belanda) metode
u tetap u
structure struktur
institute institut
v tetap v
evacuation evakuasi
television televisi
vitamin vitamin
x pada awal kata tetap x
xenon xenon
xylophone xilofon
x pada posisi lain menjadi ks
executive eksekutif
express ekspres
taxi taksi
Selain kaidah penulisan unsur
serapan di atas, berikut ini disertakan daftar istilah asing yang mengandung
akhiran serta penyesuaiannya secara utuh dalam bahasa Indonesia:
-aat (Belanda) menjadi -at
advocaat advokat
-age menjadi -ase
percentage persentase
-al (Inggris), -eel dan -aal (Belanda) menjadi -al
structural structureel struktural
formal formeel formal
-ant menjadi -an
accountant akuntan
consultant konsultan
-archy (Inggris), -archie (Belanda) menjadi arki
anarchy anarchie anarki
monarchy monarchie monarki
-ary (Inggris), -air (Belanda) menjadi -er
primary primair primer
secondary secundair sekunder
-(a)tion (Inggris), -(a)tie (Belanda) menjadi -asi,
-si
action actie aksi
publication publicatie publikasi
-ic, -ics, dan –ique (Inggris), -iek dan -ica
(Belanda) menjadi -ik, ika
logic logica logika
linguistics linguistiek linguistik
-ical (Inggris), -isch (Belanda) menjadi -is
economical economisch ekonomis
practical practisch praktis
-ism (Inggris), -isme (Belanda) menjadi -isme
capitalism capitalisme kapitalisme
communism communisme komunisme
-ive (Inggris), -ief (Belanda) menjadi -if
communicative communicatief komunikatif
descriptive descriptief deskriptif
kha (Ø® Arab) menjadi kh
khusus (خصؤص) khusus
makhluq (مخلؤق) makhluk
tarikh (تاريخ) tarikh
-logue (Inggris),
-loog (Belanda) menjadi -log
analogue analoog analog
epilogue epiloog epilog
-logy (Inggris), -logie (Belanda) menjadi -logi
technology technologie teknologi
physiology physiologie fisiologi
-ty (Inggris), -teit (Belanda) menjadi -tas
university universiteit universitas
quality kwaliteit kualitas
-ure (Inggris), uur (Belanda) menjadi -ur
culture cultuur kultur
structure struktuur struktur
B.
Cara Penyerapan Unsur Bahasa Asing
Penyerapan unsur bahasa asing ke
dalam bahasa Indonesia dilakukan dengan empat cara, yaitu:
1. Adopsi
Terjadi apabila pemakai bahasa
mengambil bentuk dan makna kata asing itu secara
keseluruhan. Contoh: Supermarket, plaza, dan mall.
2. Adaptasi
Terjadi apabila pemakai bahasa
hanya mengambil makna kata asing itu, sedangkan ejaan atau penulisannya
disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia.Contoh: Pluralization menjadi pluralisasi, acceptability menjadi akseptabilitas.
3. Penerjemahan
Terjadi apabila pemakai bahasa
mengambil konsep yang terkandung dalam bahasa asing itu, kemudian kata tersebut
dicari padanannya dalam bahasa Indonesia.Contoh: Overlap menjadi tumpang tindih, try
out menjadi uji coba.
4. Kreasi
Terjadi apabila pemakai bahasa
hanya mengambil konsep dasar yangada dalam bahasa Indonesia. Cara ini mirip
dengan cara penerjemahan, akan tetapi cara kreasi tidak menuntut bentuk fisik
yang mirip seperti penerjemahan.Boleh saja kata yang ada dalam bahasa aslinya
ditulis dalam 2 atau 3 kata, sedangkan bahasa Indonesianya hanya satu kata
saja. Contoh: Effective menjadi berhasil
guna, spare parts menjadi suku cadang.
C.
Ketentuan Umum Pembentukan Istilah
1. Istilah
dan Tata Istilah
Istilah adalah kata atau frasa yang
dipakai sebagai nama atau lambang dan yang dengan cermat mengungkapkan makna
konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi,
dan seni. Tata istilah (terminologi) adalah perangkat asas dan ketentuan
pembentukan istilah serta kumpulan istilah yang dihasilkannya. Misalnya: Anabolisme,
demokrasi, pemerataan.
2. Istilah Umum dan Istilah Khusus
Istilah umum adalah istilah yang
berasal dari bidang tertentu yang karena dipakai secara luas, menjadi unsur
kosakata umum. Misalnya: Anggaran belanja, daya, nikah, penilaian, radio,
takwa.
Istilah khusus adalah istilah yang
maknanya terbatas pada bidang tertentu saja. Misalnya: Apendektomi, bipatride,
kurtosis, pleistosen.
3. Persyaratan
Istilah yang Baik
Dalam pembentukan istilah perlu
diperhatikan persyaratan dalam pemanfaatan kosakata bahasa Indonesia sebagai
berikut:
a.
Istilah yang
dipilih adalah kata atau frasa yang paling tepat untuk mengungkapkan konsep
termaksud dan yang tidak menyimpang dari makna itu.
b.
Istilah yang
dipilih adalah kata atau frasa yang paling singkat di antara pilihan yang
tersedia yang mempunyai rujukan sama.
c.
Istilah yang
dipilih adalah kata atau frasa yang sedap didengar
(eufonik).
d.
Istilah yang
dipilih adalah kata atau frasa yang bentuknya seturut kaidah bahasa Indonesia.
4. Nama
dan Tata Nama
Nama adalah kata atau frasa yang
berdasarkan kesepakatan menjadi tanda pengenal benda, orang, hewan, tumbuhan,
tempat, atau hal. Tata nama (nomenklatur) adalah perangkat peraturan penamaan
dalam bidang ilmu tertentu, seperti kimia, biologi, beserta kumpulan nama yang
dihasilkannya. Misalnya: Aldehida, natrium klorida, dan oryza sativa.
D.
Proses Pembentukan Istilah
1. Konsep Ilmu Pengetahuan dan
Peristilahannya
Upaya kecendekiaan ilmuwan (scientist) dan pandit (scholar) telah dan terus menghasilkan
konsep ilmiah, yang pengungkapannya dituangkan dalam perangkat peristilahan.Ada
istilah yang sudah mapan dan ada pula istilah yang masih perlu
diciptakan.Konsep ilmiah yang sudah dihasilkan ilmuwan dan pandit Indonesia
dengan sendirinya mempunyai istilah yang mapan. Akan tetapi, sebagian besar
konsep ilmu pengetahuan modern yang dipelajari, digunakan, dan dikembangkan
oleh pelaku ilmu pengetahuan dan teknologi diIndonesia datang dari luar negeri dan sudah dilambangkan dengan
istilah bahasa asing. Di samping itu, ada kemungkinan bahwa kegiatan ilmuwan
dan pandit Indonesia akan mencetuskan konsep ilmu pengetahuan, teknologi, dan
seni yang baru sehingga akan diperlukan penciptaan istilah baru.
2. Bahan
Baku Istilah Bahasa Indonesia
Tidak
ada satu bahasa pun yang sudah memiliki kosakata yang lengkap dan tidak
memerlukan ungkapan untuk gagasan, temuan, atau reka cipta yang baru. Bahasa
Inggris yang kini dianggap bahasa internasional pun menyerap kata dan ungkapan
dari bahasa Yunani, Latin, Perancis, dan bahasa lain. Bahan istilah bahasa
Indonesia diambil dari berbagai sumber, terutama dari tiga golongan bahasa yang
penting, yakni bahasa Indonesia (termasuk unsur serapannya, dan bahasa Melayu),
bahasa Nusantara yang serumpun (termasuk bahasa Jawa Kuno), dan bahasa asing
seperti bahasa Inggris dan bahasa Arab.
3. Pemantapan Istilah Nusantara
Istilah yang mengungkapkan konsep
hasil galian ilmuwan dan pandit Indonesia, seperti Bhineka Tunggal Ika, batik,
banjar, sawer, gunungan, dan pamor telah lama diterima secara luas sehingga
dapat dimantapkan dan hasilnya dikodifikasi.
4. Pemadanan Istilah
Pemadanan istilah asing ke dalam
bahasa Indonesia dilakukan lewat penerjemahan, penyerapan, atau gabungan antara
penerjemahan dan penyerapan. Demi keseragaman, sumber rujukan yang diutamakan
ialah istilah Inggris yang pemakaiannya bersifat internasional karena sudah
dilazimkan oleh para ahli dalam bidangnya.Penulisan istilah serapan itu
dilakukan dengan atau tanpa penyesuaian ejaannya berdasarkan kaidah fonotaktik,
yakni hubungan antara urutan bunyi yang diizinkan dalam bahasa Indonesia.
a. Penerjemahan
1)
Penerjemahan Langsung
Istilah Indonesia dapat dibentuk
lewat penerjemahan berdasarkan kesesuaian makna, tetapibentuknya tidak sepadan.Misalnya:
Supermarket
- pasar swalayan
Merger
- gabungan usaha
Penerjemahan dapat pula dilakukan
berdasarkan kesesuaian bentuk dan makna.
Misalnya:
Bonded
zone - kawasan
berikat
Skyscraper
- pencakar langit
Penerjemahan istilah asing memiliki
beberapa keuntungan.Selain memperkaya kosakata Indonesiadengan sinonim, istilah
terjemahan juga meningkatkan daya ungkap bahasa Indonesia.Jika timbul kesulitan
dalam penyerapan istilah asing yang bercorak Anglo-Sakson karenaperbedaan
antara lafal dan ejaannya, penerjemahan merupakan jalan keluar terbaik.Dalampembentukan
istilah lewat penerjemahan, perlu diperhatikan pedoman berikut:
a) Penerjemahan tidak harus berasas satu kata
diterjemahkan dengan satu kata. Misalnya:
Psychologist - ahli psikologi
Medical
practitioner - dokter
b) Istilah asing dalam bentuk positif
diterjemahkan ke dalam istilah Indonesia bentuk positif,sedangkan istilah dalam
bentuk negatif diterjemahkan ke dalam istilah Indonesia bentuknegatif pula.
Misalnya:
Bound form - bentuk terikat
Illiterate
- niraksara
c) Kelas kata istilah asing dalam
penerjemahan harus dipertahankan pada istilahterjemahannya. Misalnya:
Merger (nomina) - gabung usaha (nomina)
Transparent (adjektiva) - bening (adjektiva)
(to) filter (verba) - menapis (verba)
d) Dalam penerjemahan istilah asing
dengan bentuk plural, pemarkah kejamakannya ditanggalkanpada istilah Indonesia.
Misalnya:
Alumni
-lulusan
Master
of ceremonies - pengatur
acara
Charge
d’affaires - kuasa
usaha
2)
Penerjemahan dengan Perekaan
Adakalanya upaya pemadanan istilah
asing perlu dilakukan dengan menciptakan istilahbaru.Istilah factoringmisalnya, sulit diterjemahkan atau
diserap secara utuh.Dalamkhazanah kosakata bahasa Indonesia/Melayu terdapat
bentuk anjak dan piutang yangmenggambarkan pengalihan hak
menagih utang. Lalu, direka istilah anjak piutangsebagaipadanan
istilah factoring. Begitu pula pemadanan catering menjadi jasa boga, dan inventionmenjadi rekacipta, diperoleh lewat perekaan.
b.
Penyerapan
1) Penyerapan Istilah
Penyerapan istilah asing untuk
menjadi istilah Indonesia dilakukan berdasarkan hal-hal berikut:
a) Istilah asing yang akan diserap
meningkatkan ketersalinan bahasa asing dan bahasa Indonesiasecara timbal balik
(intertranslatability) mengingat keperluan masa depan.
b) Istilah asing yang akan diserap
mempermudah pemahaman teks asing oleh pembaca Indonesiakarena dikenal lebih
dahulu.
c) Istilah asing yang akan diserap
lebih ringkas jika dibandingkan dengan terjemahan Indonesianya.
d) Istilah asing yang akan diserap mempermudah
kesepakatan antarpakar jika padanan terjemahannyaterlalu banyak sinonimnya.
e) Istilah asing yang akan diserap lebih
cocok dan tepat karena tidak mengandung konotasiburuk.
Proses penyerapan istilah asing
dengan mengutamakan bentuk visualnya dilakukan dengancaraberikut:
a)
Penyerapan dengan penyesuaian ejaan dan lafal. Misalnya:
Camera - kamera
Microphone - mikrofon
System - sistem
b) Penyerapan dengan penyesuaian ejaan
tanpa penyesuaian lafal. Misalnya:
Design - desain
File - fail
Science -sains
c) Penyerapan tanpa penyesuaian ejaan,
tetapi dengan penyesuaian lafal. Misalnya:
Bias - bias
Nasal - nasal
Radar (radio
detecting radar and ranging) - radar
d) Penyerapan tanpa penyesuaian ejaan dan lafal
(1) Penyerapan istilah asing tanpa
penyesuaian ejaan dan lafal dilakukan jika ejaan danlafal istilah asing itu
tidak berubah dalam banyak bahasa modern, istilah itu dicetakdengan huruf
miring. Misalnya:
Allegro moderato divide
et impera
Aufklarung dulce et
utile
Status quo
Esprit de corps
(2)
Penyerapan istilah tanpa penyesuaian ejaan dan lafal dilakukan jika istilah itu
juga dipakaisecara luas dalam kosakata umum, istilah itu tidak ditulis dengan
huruf miring(dicetak dengan huruf tegak). Misalnya:
Golf -golf
Internet - internet
Lift - lift
Orbit - orbit
Sonar (sound
navigation and ranging) - sonar
2) Penyerapan Istilah Afiks dan Bentuk
Terikat Istilah Asing
a) Penyesuaian ejaan prefiks dan bentuk terikat
Prefiks asing yang bersumber pada
bahasa Indo-Eropa dapat dipertimbangkan pemakaiannyadi dalam peristilahan
Indonesia setelah disesuaikan ejaannya. Prefiks asing itu sebagai berikut:
a-, ab-, abs- (‘dari’, ‘menyimpang
dari’, ‘menjauhkan dari’) tetap a-, ab-, abs-
amoral - amoral
abnormal-
abnormal
abstract-
abstrak
a-, an- ‘tidak, bukan, tanpa’ tetap
a-, an
anemia
- anemia
aphasia-
afasia
aneurysm-
aneurisme
ad-, ac- ‘ke’, ‘berdekatan dengan’,
‘melekat pada’, menjadi ad-, ak
adhesion
- adhesi
acculturation-
akulturasi
am-, amb- ‘sekeliling’, ‘keduanya’
tetap am-, amb
ambivalence
- ambivalensi
amputation-
amputasi
ana-, an- ‘ke atas’, ‘ke belakang’,
‘terbalik’ tetap ana-, an
anabolism
- anabolisme
anatropous-
anatrop
anti-, ant- ‘bertentangan dengan’
tetap anti-, ant
anticatalyst
- antikatalis
anticlinal-
antiklinal
antacid-
antacid
apo- ‘lepas, terpisah’, ‘berhubungan
dengan’ tetap apo
apochromatic
- apokromatik
apomorphine-
apomorfin
aut-, auto- ‘sendiri’, ‘bertindak
sendiri’ tetap aut-, auto
autarky
- autarki
autostrada-
autostrada
cata- ‘bawah’, ‘sesuai dengan’
menjadi kata
cataclysm
- kataklisme
catalyst-
katalis
co-, com-, con- ‘dengan’,
‘bersama-sama’, ‘berhubungan dengan’ menjadi ko-, kom-, kon
coordination
- koordinasi
commission-
komisi
concentrate-
konsentrat
contra-‘menentang’, ‘berlawanan’ menjadi
kontra
contradiction
- kontradiksi
contraindication-
kontraindikasi
de-‘memindahkan’,
‘mengurangi’ tetap de
dehydration
- dehidrasi
devaluation-
devaluasi
di-‘dua
kali’, ‘mengandung dua’ tetap di
dichloride
- diklorida
dichromatic
- dikromatik
dia- ‘melalui’, ‘melintas’ tetap dia
diagonal
- diagonal
diapositive-
diapositif
dis-‘ketiadaan’, ‘tidak’ tetap dis
disequilibrium
- disekuilibrium
disharmony-
disharmoni
eco-‘lingkungan’ menjadi eko
ecology
- ekologi
ecospecies-
ekospesies
em-, en- ‘dalam’, ‘di dalam’ tetap em-, en
empathy
- empati
encenphalitis-
ensenfalitis
endo-‘di dalam’ tetap endo
endoskeleton
- endoskeleton
endothermal-
endotermal
epi-‘di atas’, ‘sesudah’ tetap epi
epigone
- epigon
epiphyte-
epifit
ex-‘sebelah
luar’ menjadi eks
exclave
- eksklave
exclusive-
eksklusif
infra- ‘bawah’, ‘di bawah’, ‘di dalam’ tetap infra
infrasonic
- infrasonik
infraspecific-
infraspesifik
inter-‘antara’, ‘saling’ tetap inter
interference
- interferensi
international
- internasional
intra-‘di dalam’, ‘di antara’ tetap intra
intradermal
- intradermal
intracell-
intrasel
intro-‘dalam’, ‘ke dalam’ tetap intro
introvert-
introvert
re-‘lagi’,
‘kembali’ tetap re
reflection
- refleksi
rehabilitation-
rehabilitasi
tele-‘jauh’, ‘melewati’, ‘jarak’ tetap tele
telepathy
- telepati
telescope-
teleskop
ultra-‘melebihi’, ‘super’ tetap ultra
ultramodern
- ultramodern
ultraviolet-
ultraviolet
uni-‘satu’, ‘tunggal’ tetap uni
unicellular–uniseluler
b) Penyesuaian ejaan sufiks
Sufiks asing dalam bahasa Indonesia
diserap sebagai bagian kata berafiks yang utuh. Kata seperti standarisasi,
implementasi, dan objektif diserap secara utuh dari katastandar,implement, dan objek.
Berikut daftar kata bersufiks tersebut:
-aat (Belanda)
menjadi -at
Advocaat – advokat
Plaat – pelat
Tractaat – traktat
-able, -ble
(Inggris) menjadi -bel
Variable – variabel
Flexsible – flexibel
-ac (Inggris)
menjadi -ak
Maniac – maniak
Cardiac – kardiak
Almanac – almanak
-age (Inggris)
menjadi -ase
Sabotage – sabotase
Arbitrage – arbitrase
Percentage – persentase
-air (Belanda),
-ary (Inggris) menjadi -er
Complementair - complementary -
komplementer
Primair - primary - primer
Secundair - secondary - sekunder
-al (Inggris)
menjadi -al
Credential – kredensial
Minimal – minimal
National – nasional
-ance, -ence
(Inggris) menjadi -ans, -ens
Ambulance – ambulans
Conductance – konduktans
Termophosphorescence – termosfosforensens
Thermoluminescence – termoluminesens
-ancy, -ency
(Inggris) –menjadi -ansi, -ensi
Efficiency – efisiensi
Frequency – frekuensi
Relevancy – relevansi
-anda, -end, -andum,
-endum (Belanda, Inggris) menjadi –anda, -en, -andum, -endum
Propaganda - propaganda
Divindend – dividen
Memorandum – memorandum
Referendum – referendum
-ant (Belanda,
Inggris) menjadi -an
Accountant – akuntan
Informant – informan
Dominant – dominan
-ar (Inggris)
menjadi -ar, -er
Curricular – kurikuler
Solar – solar
-archie (Belanda),
-archy (Inggris) menjadi -arki
Anarchie - anarchy - anarki
Monarchie - monarchy- monarki
-ase, -ose
(Inggris) menjadi -ase, -asa
Amylase – amilase
Dextrose – dekstrosa
-asme (Belanda),
asm (Inggris) menjadi -asme
Sarcasm - sarcasm - sarkasme
Pleonasme - pleonasm- pleonasme
-ate (Inggris)
menjadi -at
Emirate – emirat
Private – privat
-atie (Belanda),
-(a)tion (Inggris) menjadi -(a)si
Acti -
action - aksi
Publicatie - publication - publikasi
-cy (Inggris)
menjadi -asi, -si
Accountancy – akuntansi
Accuracy – akurasi
-eel, aal
(Belanda), -al (Inggris) menjadi -al
Formeel - formal - formal
Ideal -
ideal - ideal
-et, ette
(Inggris) menjadi -et
Duet – duet
Cabinet – cabinet
Cassette – kaset
-eur (Belanda),
-or (Inggris) menjadi -ir
Amateur – amatir
Importeur – importer
-eus (Belanda)
menjadi -us
Mesterieus – misterius
Serieus – serius
-ficatie (Belanda),
fication (Inggris) menjadi -fikasi
Specificatie - specification -
spesifikasi
-oide (Belanda), -oid
(Inggris) menjadi -oid
Anthropoide
– anthropoid - anthropoid
Metalloide
– metalloid - metalloid
-or (Inggris) menjadi -or
Corrector
– korektor
Dictator
– dictator
-ous (Inggris)
ditinggalkan
Amorphous
– amorf
Polysemous
– polisem
-se (Belanda), -sis
(Inggris) menjadi -sis
Synthese
- synthesis - sintesis
Anomnese
- anamnesis - anamnesis
-uur (Belanda), -ure
(Inggris) menjadi -ur
Proceduur
- procedure - prosedur
Structuur
- structure - struktur
-y (Inggris) menjadi -i
Monarchy
– monarki
Philosophy–
filosofi
3)
Gabungan
penerjemahan dan penyerapan
Istilah bahasa Indonesia dapat
dibentuk dengan menerjemahkan dan menyerap istilah asing sekaligus. Misalnya:
Bound
morpheme - morfem terikat
Clay
colloid - koloid lempung
Subdivision
- subbagian
5. Perekaciptaan Istilah
Kegiatan ilmuwan, budayawan, dan
seniman yang bergerak di baris terdepan ilmu, teknologi, dan seni dapat
mencetuskan konsep yang belum ada selama ini.Istilah baru untuk mengungkapkan
konsep itu dapat direka cipta sesuai dengan lingkungan dan corak bidang
kegiatannya.Misalnya, reka cipta istilah fondasi cakar ayam, penyangga
sosrobahu, plasma inti rakyat, dan tebang pilih Indonesia telah masuk ke dalam
khazanah peristilahan.
6.Pembakuan dan Kodifikasi Istilah
Istilah yang diseleksi lewat
pemantapan, penerjemahan, penyerapan, dan perekaciptaan dibakukan lewat
kodifikasi yang mengusahakan keteraturan bentuk seturut kaidah dan adat
pemakaian bahasa.Kodifikasi itu tercapai dengan tersusunnya sistem ejaan, buku
tata bahasa, dan kamus yang merekam dan menetapkan bentuk bakunya.
7. Bagan Prosedur Pembakuan Istilah
Prosedur pembakuan istilah dapat dilihat pada bagan
berikut:
E.
Aspek Tata Bahasa Peristilahan
Istilah
dapat berupa bentuk dasar, bentuk berafiks, bentuk ulang, bentuk majemuk,
bentuk analogi, hasil metanalisis, singkatan, dan akronim.
1.
Istilah Bentuk
Dasar
Istilah
bentuk dasar dipilih di antara kelas kata utama, seperti nomina, verba,
adjektiva, dan numeralia. Misalnya:
Nomina:
Kaidah - rule
Busur
- bow
Cahaya
- light
Verba:
Keluar - out
Uji
- test
Tekan
- press
Adjektiva: Acak - random
Cemas
- anxious
Numeralia:
Gaya empat - four force
(Bus)
dua tingkat - double decker
2. Istilah
Bentuk Berafiks
Istilah bentuk berafiks disusun
dari bentuk dasar dengan penambahan prefix, infiks, sufiks, dan konfiks seturut
kaidah pembentukan kata bahasa Indonesia. Misalnya dari bentuk pirsa menjadi pemirsa, bukan pirsawan.Dari
hantar menjadi keterhantaran, bukan
kehantaran.Istilah bentuk berafiks menunjukkan pertalian yang teratur antara
bentuk dan maknanya.Istilah bentuk berafiks tersebut mengikuti paradigma
berikut, yang unsur-unsurnya demi kejelasan dimasukkan dalam berbagai kotak.
a. Paradigma
bentuk berafiks ber-
Ber-tani
bertani petani pertanian
Bel-ajar
belajar pelajar pelajaran
Ber-ubah berubah perubah perubahan
Istilah berafiks petani, pelajar,
perubah yang mengacu kepada pelaku atau alat, dan peranian, pelajaran,
perubahan yang mengacu ke hal, keadaan, atau tempat dibentuk dari verba
bertani, belajar, berubah yang berasal dari bentuk dasar tani, ajar, dan ubah.
b. Paradigma
bentuk berafiks meng-
Men-tulis menulis penulis penulisan tulisan
Meng-ubah mengubah pengubah pengubahan ubahan
Mem-besarkan membesarkan pembesar pembesaran besaran
Meng-ajari mengajari pengajar pengajaran ajaran
Istilah berafiks penulis, pengubah,
pembesar, pengajar, yang mengacu kepada pelaku atau alat, dan penulisan,
pengubahan, pengajaran yang mengacu ke proses atau perbuatan serta tulisan, ubahan,
besaran, ajaran yang mengacu ke hasil dijabarkan dari verba menulis, mengubah,
membesarkan, mengajar yang berasal dari bentuk dasar tulis, ubah, besar, dan
ajar.
Mem-berdayakan memperdayakan pemberdaya pemberdayaan
Mem-berhentikan memberhentikan pemberhenti pemberhentian
Mem-belajarkan membelajarkan pembelajar pembelajaran
Istilah berafiks pemberdaya,
pemberhenti, pembelajar yang mengacu kepada pelaku.Pemberdayaan, pemberhentian,
pembelajaran yang mengacu ke perbuatan dibentuk dari verba memperdayakan,
memberhentikan, membelajarkan yang dibentuk dari berdaya, berhenti, belajar
yang berasal dari bentuk dasar daya, henti, dan ajar.
Mem-persatukan persatuan mempersatukan pemersatu pemersatuan
Istilah berafiks pemersatuyang mengacu kepada pelaku dan pemersatuan
yang mengacu ke perbuatan atau prose. Persatuan yang mengacu ke hasil dibentuk
dari verba mempersatukan yang berasal daribentuk dasar satu.
c. Paradigma
bentuk berkonfiks ke-an
Ke-an saksi kesaksian
Ke-an bermakna kebermaknaan
Ke-an terpuruk keterpurukan
Ke-an seragam keseragaman
Istilah berkonfiks ke-an yang
mengacu ke hal atau keadaan dibentuk dari pangkal yang berupa bentuk dasar atau
bentuk yang berprefiks ber-, ter-, se-, seperti saksi, bermakna, terpuruk, dan
seragam.
d. Paradigma
bentuk berinfiks -er-, -el-, -em-, -in-
Sabut
– serabut
Tunjuk
– telunjuk
Kelut
– kemelut
Kerja
– kinerja
Gigi
– gerigi
Gembung
– gelembung
Getar
– gemetar
Sambung
– sinambung
Istilah berinfiks -er-, -el-, -em-,
-in- seperti serabut, gerigi, telunjuk, gelembung, kemelut, gemetar, kinerja,
sinambung yang mengacu ke jumlah, kemiripan, atau hasil dibentuk dari dasar
sabut, gigi, tunjuk, gembung, kelut, getar, kerja, dan sambung.
3. Istilah
Bentuk Ulang
Istilah bentuk
ulang dapat berupa ulangan bentuk dasar seutuhnya atau sebagiannya dengan atau
tanpa pengimbuhan dan pengubahan bunyi.
a. Bentuk
ulang utuh
Istilah bentuk ulang utuh yang
mengacu ke kemiripan dapat dilihat pada contoh berikut:
Ubur-ubur
Paru-paru
Kunang-kunang
Undur-undur
Kanak-kanak
Langit-langit
Kuda-kuda
b. Bentuk
ulang suhu awal
Istilah bentuk ulang suhu awal
(dwipura) yang dibentuk melalui pengulangan konsonan awal dengan penambahan
‘pepet’ dapat dilihat pada contoh berikut:
Laki
- lelaki
Tangga
- tetangga
Jaring
- jejaring
Rata
- merata
c. Bentuk
ulang berafiks
Istilah bentuk ulang dengan afikasi
dibentuk melalui paradigma berikut:
Daun-dedaunan
Pohon-pepohonan
Rumput-rerumputan
Istilah bentuk ulang dedaunan,
pepohonan, rerumputan yang mengacu ke berbagai macam keanekaan dibentuk dari
dasar daun, pohon, dan rumput yang mengalami pengulangan.
d. Bentuk
ulang salin suara
Istilah bentuk ulang salin suara
dibentuk melalui pengulangan dengan perubahan bunyi. Perhatikan contoh berikut!
Sayur - sayur-mayur
Beras
- beras-petas
Serta
- serta-merta
Warna
- warna-warni
Teka
- teka-teki
Balik
- bolak-balik
Dari segi makna, pengulangan dengan
cara itu mengandung makna ‘bermacam-macam’.
4.
Istilah Bentuk
Majemuk
Istilah bentuk
majemuk atau kompositum merupakan hasil penggabungan dua bentuk atau lebih yang
menjadi satuan leksikal baru. Gabungan kata itu berupa: (1) Gabungan bentuk
bebas dengan bentuk bebas, (2) bentuk bebas dengan bentuk terikat, atau (3)
bentuk terikat dengan bentuk terikat.
a.
Gabungan bentuk
bebas
Istilah majemuk benuk
bebas merupakan penggabungan dua unsur atau lebih, yang unsur-unsurnya dapat
berdiri sendiri sebaga bentuk bebas. Gabungan bentuk bebas meliputi gabungan:
(a) Bentuk dasar dengan bentuk dasar, (b) bentuk dasar dengan bentuk berafiks
atau sebaliknya, dan (c) bentuk berafiks dengan dengan bentuk berafiks.
1) Gabungan
bentuk dasar
Istilah
majemuk gabungan bentuk dasar merupakan penggabungan dua bentuk dasar atau
lebih.
Garis
lintang
Masa
depan
Rawat
jalan
Kereta
api listrik
Rumah
sangat sederhana
2) Gabungan
bentuk dasar dan bentuk berafiks
Istilah
majemuk bentuk gabungan ini merupakan penggabungan bentuk dasar dan bentuk
berafiks atau sebaliknya.
Proses
berdaur
Sistem
pencernaan
Menembak
jatuh
Tertangkap
tangan
3) Gabungan
bentuk berafiks dan bentuk berafiks
Istilah
majemuk bentuk gabungan ini merupakan penggabungan bentuk berafiks dan bentuk
berafiks.Misalnya:
Kesehatan
lingkungan
Perawatan
kecelakaan
Pembangunan
berkelanjutan
b.
Gabungan bentuk
bebasdengan bentuk terikat
Istilah majemuk
bentuk gabungan ini merupakan penggabungan dua bentuk, atau lebih, yang salah
satu unsurnya tidak dapat berdiri sendiri.Ada sejumlah bentuk terikat yang
dapat digunakan dalam pembentukan istilah yang berasal dari bahasa Jawa Kuno
dan Melayu. Misalnya:
adi-
adikarya
- masterpiece
adikuasa
- superpower
aneka-
anekabahasa
- multilingual
anekawarna
- multicolored
antar-
antarkota-intercity
antarbangsa-international
catur-
caturwulan-quarter
caturlarik-quatrain
dasa-
dasawarsa
- decade
dasalomba-decathlon
dwi-
dwimingguan-biweekly
dwibahasa-bilingual
panca-
pancamuka
-multifaceted
pancaragam
-variegated
pasca-
pascapanen
-postharvest
pascasarjana
-postgraduate
pra-
prasejarah
-prehistory
prasangka
-prejudice
purba-
purwawisesa
-absolute power
purbakalawan
-archeologist
swa-
swasembada
-self-reliance
swalayan
-self-service
Sementara itu, bentuk terikat yang berasal dari bahasa asing,
dengan beberapa
perkecualian, langsung diserap
bersama-sama dengan kata lain yang mengikutinya. Contohgabungan bentuk asing dengan
kata Melayu-Indonesia adalah sebagai berikut:
Globalization - globalisasi
Modernization - modernisasi
Gabungan bentuk bebas dan bentuk
terikat seperti –wan dan –wati dapat dilihat pada contoh berikut:
Ilmuwan - scientist
Seniwati
- woman artist
c.
Gabungan bentuk
terikat
Istilah majemuk bentuk gabungan ini
merupakan penggabungan bentuk terikat, dan bentukterikat unsur itu ditulis
serangkai, tidak diberi tanda hubung. Misalnya:
Dasawarsa- decade
Swatantra
– selfgovernment
5. Istilah
Bentuk Analogi
Istilah bentuk analogi bertolak dari
pola bentuk istilah yang sudah ada, seperti berdasarkanpola bentuk pegulat, tata bahasa, juru tulis, pramugari,dengan
pola analogi pada istilahtersebut dibentuk berbagai istilah lain.Misalnya:
Pegolf (golfer)
Peselancar (surfer)
Tata graha (housekeeping)
Tata kelola (governance)
Juru bicara (spokesman)
Pramuniaga
(salesperson)
Pramusiwi
(baby-sitter)
6. Istilah Hasil Metanalisis
Istilah hasil metanalisis terbentuk
melalui analisis unsur yang keliru. Misalnya:
Kata mupakat (mufakat) diuraikan menjadi mu + pakat; lalu ada kata sepakat.
Kata dasar perinci disangka terdiri atas pe + rinci sehingga muncul istilah
rincidan rincian.
7. Istilah
Bentuk Singkatan
Istilah bentuk singkatan ialah
bentuk yang penulisannya dipendekkan menurut tiga cara berikut:
a. Istilah yang bentuk tulisannya
terdiri atas satu huruf atau lebih yang dilisankan sesuaidengan bentuk istilah
lengkapnya. Misalnya:
cm yang dilisankan sentimeter
l yang dilisankan liter
sin yang dilisankan sinus
tg yang dilisankan tangen
b. Istilah yang bentuk tulisannya
terdiri atas satu huruf atau lebih yang lazim dilisankanhuruf demi huruf.
Misalnya:
DDT (diklorodifeniltrikloroetana)
yang dilisankan de-de-te
KVA (kilovolt-ampere) yang
dilisankan ka-ve-a
TL (tube luminescent) yang
dilisankan te-el
c. Istilah yang sebagian unsurnya
ditanggalkan. Misalnya:
Ekspres yang berasal dari kereta api ekpres
Kawat yang berasal dari surat kawat
Harian yang berasal dari surat kabar
harian
Lab yang berasal dari laboratorium
Info yang berasal dari informasi
Demo yang berasal dari demonstrasi
Promo yang berasal dari promosi
8. Istilah Bentuk Akronim
Istilah bentuk akronim ialah istilah
pemendekan bentuk majemuk yang berupa gabunganhuruf awal suku kata, gabungan
suku kata, ataupun gabungan huruf awal dan suku kata darideret kata yang
diperlakukan sebagai kata. Misalnya:
Bukti pelanggaran - tilang
Peluru kendali (guided
missile) - rudal
Cairan alir (lotion) – calir
9. Lambang Huruf
Lambang huruf ialah satu huruf atau
lebih yang melambangkan konsep dasar ilmiah sepertikuantitas dan nama unsur.
Lambang huruf tidak diikuti tanda titik. Misalnya:
F - gaya
N - nitrogen
Hg - raksa (kimia)
m - meter
NaCl - natrium klorida
Rp- rupiah
$ - dolar
10. Gambar
Lambang
Gambar lambang ialah gambar atau
tanda lain yang melambangkan konsep ilmiah menurutkonvensi bidang ilmu yang
bersangkutan. Misalnya:
:kongruen (matematika)
≡ :identik (matematika)
Σ :jumlah beruntun (matematika)
~ :setara (matematika)
♂ : jantan (biologi)
♀ : betina (biologi)
Ð¥ :disilangkan dengan; hibrida (biologi)
↓ :menunjukkan endapan zat (kimia)
◊ :cincin benzena (kimia)
✶: bintang (astronomi)
☼ :matahari; Ahad (astronomi)
f° :folio (ukuran kertas)
4° : kuarto (ukuran kertas)
U: pon (dagang)
&: dan (dagang)
pp :pianissimo,
sangat lembut (musik)
f :forte, nyaring (musik)
* :asterisk, takgramatikal, bentuk
rekonstruksi (linguistik)
<: dijabarkan dari (linguistik)
11.
Satuan Dasar Sistem Internasional (SI)
Satuan dasar sistem Internasional (Système
Internasional d'Unités) yang diperjanjikan secarainternasional dinyatakan
dengan huruf lambang.
Besaran Dasar Lambang Satuan Dasar
arus listrik/elektrik A ampere
intensitas cahaya cd kandela
kuantitas zat mol mol
massa kg kilogram
panjang m meter
suhu termodinamika K kelvin
waktu s sekon,
detik
F. Aspek
Semantik Peristilahan
1. Pemberian Makna Baru
Istilah baru dapat dibentuk lewat
penyempitan dan peluasan makna kata yang lazim dan yangtidak lazim.Artinya,
kata itu dikurangi atau ditambah jangkauan maknanya sehinggapenerapannya
menjadi lebih sempit atau lebih luas.
a.
Penyempitan Makna
Kata gayayang mempunyai makna ‘kekuatan’
dipersempit maknanya menjadi ‘doronganatau tarikan yang akan menggerakkan benda
bebas (tak terikat)’ dan menjadi istilah baru untuk padanan istilah inggris force.
Kata kendala
yang mempunyai makna ‘penghalang’, ‘perintang’
dipersempit maknanya menjadi ‘pembatas keleluasaan gerak’, yang tidak perlu menghalangi
atau merintangi, untuk dijadikan istilah baru bidang fisika sebagai padanan
istilah Inggris constraint. Kata tenaga yang mempunyai makna ‘kekuatan
untuk menggerakkan sesuatu’ dipersempit maknanya untuk dijadikan istlah baru
sebagai padanan istilah energy dan kata daya
menjadi padanan istilah power.Kata ranah
dalam bahasa Minang, yang mempunyai
makna ‘tanah rata, dataran rendah’ dipersempit maknanya menjadi ‘lingkungan
yang memungkinkan terjadinya percakapan yang merupakan kombinasi antara partisipan,
topik, dan tempat’ sebagai padanan istilah domain.
b. Perluasan Makna
Kata garam yang semula bermakna
'garam dapur' (NaCl) diperluas maknanya sehinggamencakupi semua jenis senyawa
dalam bidang kimia.Kata canggih yang semula bermakna 'banyak cakap,
bawel, cerewet' diperluas maknanyauntuk dipakai di bidang teknik, yang berarti
'kehilangan kesedarhanaan asli (seperti sangat rumit, ruwet, atau
terkembang)'.Kata pesawat yang semula bermakna 'alat,
perkakas, mesin' diperluas maknanya di bidang teknik menjadi 'kapal terbang'.
Kata luah
yang berasal dari bahasa Minang,
dengan makna '(1) rasa mual; (2) tumpah atau limpah (tentang barang cair)',
mengalami perluasan makna menjadi 'volume zat cair yang mengalir melalui
permukaan per tahun waktu'.Kata pamer yang semula dalam bahasa Jawa bermakna
'beraga, berlagak' bergeser maknanya dalam bahasa Indonesia menjadi
'menunjukkan (mendemonstrasi) sesuatu yang dimiliki kepada orang banyak dengan
maksud memperlihatkan kelebihan atau keunggulan'.
2. Istilah Sinonim
Dua istilah atau lebih yang maknanya
sama atau mirip, tetapi bentuknya berlainan, disebutsinonim. Di antara istilah
sinonim itu salah satunya ditentukan sebagai istilah baku atau yang diutamakan.
Misalnya:
gulmasebagai padanan weed
lebih baik daripada tumbuhan
pengganggu.
hutan bakau sebagai padanan mangrove
forest lebih baik
daripada hutan
payau.
mikro-sebagai padanan micro-
dalam hal tertentu lebih baikdaripadarenik.
partikelsebagai padanan particle
lebih baik daripada bagian
kecil
atauzarah.
Meskipun begitu, istilah sinonim dapat dipakai di samping
istilah baku yang
diutamakan. Misalnya:
Istilah
Asing Istilah yang Diutamakan Istilah sinonim
absorb serap
absorb
acceleration percepatan akselerasi
diameter garis tengah diameter
frequency frekuensi kekerapan
relative relatif nisbi
temperature suhu
temperatur
3.
Istilah Homonim
Istilah homonim berupa dua istilah atau
lebih yang sama ejaan dan lafalnya, tetapi maknanya berbeda, karena asalnya
berlainan. Istilah homonim dapat dibedakan menjadi homograf dan homofon.
a. Homograf
Istilah homograf ialah istilah yang sama
ejaannya, tetapi berbeda lafalnya. Misalnya:
Pedagogik - paedo - ilmu tentang hidup
dan perkembangan anak
Pedologi - pedon - ilmu tentang tanah
Teras - inti
Teras - lantai datar di muka rumah.
b. Homofon
Istilah homofon ialah istilah yang sama
lafalnya, tetapi berbeda ejaannya. Misalnya:
Bank
dengan
bang
Massa
dengan
masa
Sanksi
dengan
sangsi
4.
Istilah Polisem
Istilah polisem ialah bentuk yang
memiliki makna ganda yang bertalian.Misalnya, kata kepala (orang) ‘bagian
teratas’ dipakai dalam kepala (jawatan), kepala (sarung).Bentuk asing yang
sifatnya polisem diterjemahkan sesuai dengan arti dalam kontesknya. Karena
medan makna yang berbeda, suatu istilah asing tidak selalu berpadanan dengan
kata Indonesia yang sama.Misalnya:
(cushion) head – topi (tiang pancang)
Head
(gate) – (pintu air) atas
(nuclear)
head – hulu (nuklir)
(velocity)
head – tinggi (tenaga kecepatan)
(detonating)
fuse- sumbu (ledak)
Fuse-
sekaring
To
fuse - melebur,
berpadu, melakur, terbakar.
5.
Istilah Hiponim
Istilah
hiponim adalah bentuk yang maknanya terangkum dalam hiperonim, atau
subordinatnya, atau superordinatnya, yang mempunyai makna yang lebih luas.Kata mawar, melati, cempaka, misalnya, masing-masing disebut hiponim terhadap
kata bunga yang menjadi hiperonim
atau superordinatnya. Di dalam terjemahan, hiperonim atau superordinat pada
umumnya tidak disalin dengan salah satu hiponimnya, kecuali dalam bahasa
Indonesia tidak terdapat istilah seperordinatnya. Kata poultry, misalnya diterjemahkan dengan unggas, dan tidak dengan
ayam atau bebek. Jika tidak ada pasangan istilah hiperonimnya dalam bahasa
Indonesia, konteks situasi atau ikatan kalimat suatu superordinat asing akan
menentukan hiponim Indonesia mana yang harus dipilih. Kata rice, misalnya, dapat diterjemahkan dengan padi, gabah, beras, atau
nasi, bergantung pada konteksnya.
6.
Istilah Taksonim
Istilah
taksonim ialah hiponim dalam sister klasifikasi konsep bawahan dan konsep
atasan yang bertingkat-tingkat.
7.
Istilah Meronim
Istilah meronim ialah istilah yang maujud (entity) yang ditunjukkannya merupakan
bagian dari maujud lain yang menyeluruh.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kata serapan dalam bahasa, atau lebih tepatnya antar bahasa merupakan suatu hal
yang lumrah. Setiap kali ada kontak bahasa lewat pemakainya pasti akan terjadi
serap menyerap kata. Unit bahasa dan struktur bahasa itu ada yang bersifat
tertutup, dan ada pula yang bersifat terbuka bagi
pengaruh bahasa lain. Tertutup
berarti sulit menerima pengaruh, terbuka berarti mudah menerima pengaruh.
Bunyi
bahasa dan kosakata pada umumnya merupakan unsur bahasa yang bersifat terbuka.
Dalam kontak bahasa akan terjadi
saling pengaruh, saling meminjam atau menyerap unsur asing. Peminjaman ini dilatar
belakangi oleh berbagai hal, salah satunya adalah kebutuhan.
Tidak
ada dua bahasa yang sama persis, apalagi bahasa yang berlainan rumpun. Dalam proses
penyerapan dari bahasa pemberi pengaruh kepada bahasa penerima pengaruh, akan terjadi berbagai perubahan. Ada proses penyerapan
yang terjadi secara utuh, dan ada proses penyerapan yang terjadi dengan beberapa
penyesuaian,
baik yang terjadi dalam bahasa lisan maupun bahasa tulis. Dalam penyesuaian itu
akan terjadi pergeseran baik dalam ucapan, maupun ejaan antar bahasa pemberi dan penerima pengaruh.
Bahasa Indonesia tidak akan tetap terjaga apabila tidak
diadakan Pusat
Bahasa dan Balai Bahasa serta tempat pelatihan dan pengajaran tentang tata
bahasa. Maka,
pembelajaran bahasa disetiap sekolah pada setiap jenjang pendidikan sangat diperlukan.Karena akan membantu memelihara keaslian bahasa, agar
tehindar dari kontaminasi budaya bahasa asing.
DAFTAR
PUSTAKA
Gantamitreka.dan
Shokha. 2016. Kesalahan Berbahasa:
Penggunaan EYD. Solo: Genta Smart Publisher.
Tim
Pusat Bahasa. 2012. Kamus Besar Bahasa
Indonesia Edisi Keempat Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama.
unida.ac.id