Open top menu
Senin, 02 Juli 2018
no image



Di sebuah desa tinggalah sebuah keluarga yaitu keluarga pak hardi dan ibu Hana, beliau dikenal sebagai  keluarga yang bijaksana, pekerja keras dan rajin. Pak Hardi mempunyai dua orang anak yaitu Sifa dan Radit. Sifa berusia sebelas tahun dan duduk di kelas 5 sedangkan Radit masih berusia 3 tahun.
Mewarisi sifat ayah nya sifa adalah anak yang rajin, tekun dan baik setiap. hari sifa selalu berangkat ke sekolah pagi-pagi, bahkan  sifa selalu menjadi orang pertama yang datang ke sekolah, sebelum gerbang sekolah di buka oleh  pak usman pasti sifa sudah berada di depan pintu gerbang sekolah.  “wah nak sifa pagi-pagi udah ada disekolah sampai-sampai bapak keduluan sama nak sifa” sifa hanya membalas dengan senyuman.
Selain rajin  Sifa juga dikenal sebagai anak yang baik, sopan, santun dan suka menolong temannya dan sifa pun sangat dicintai dan dihormati oleh temannya. Hari ini bel masuk pun berbunyi, sifa yang sedari tadi sudah berada di kelas langsung menyiapkan alat-alat tulis yang akan di gunakanbelajar.
Hari ini adalah pelajaran Matematika,  minggu yang lalu Bu Riska memberitahukan agar anak-anak membawa penggaris, busur dan jangka. “anak-anak minggu lalu ibu menyuruh kalian membawa  penggaris,busur dan jangka, maka hari ini kita akan belajar tentang bagaimana menggunakan busur derajat dan kita akan mengukur sudut menggunakan busur”. “Baik buuu” jawab anak-anak. Semua siswa mengeluarkan alat tulis dan peralatan tersebut.
Vira adalah teman sebangkunya sifa dia terlihat murung, “kamu kenapa vir, kelihatannya murung begitu?” “ini Sif hari ini aku tidak bawa peralatan yang ibu suruh minggu kemaren soalnya pas minggu kemaren kan aku tidak masuk jadi aku tidak tau hari ini harus bawa apa” “ohh.. begitu, ini pake  yang aku, kita pake bareng-bareng aja dan kamu jangan murung lagi seperti tadi jelek tau,? ” “ah kamu bisa aja.., terimakasih banyak ya Sif?” kata vira.
Bel istirahatpun berbunyi sifa dan vira keluar kelas berlalian menuju kantin. Seperti biasa anak-anak di SD ini selalu memburu ciloknya bu Diah. selain rasanya yang enak juga higienis, tak heran kalau telat sedikit kekantin pasti nganti nya panjang sampai lapangan sekolah.
Di tengah-tengah antrian panjang sifa melihat andi yang sedang duduk di taman sekolah, andi hanya melihat teman-temannya yang sedang jajan. Sifa pun mnghampiri andi. ”Tumben di kamu tidak ngantri beli cilok bu diah,biasanya kamu ada di barisan pertama”. “a.a.a..anu sif tadi uang jajan ku hilang kayaknya pas lari-lari kekantin, tadi udah aku cari lagi ke kelas tapi uang ku tidak ada.” “ohh begitu..nih kamu jajan pakai uang aku aja kebetulan hari ini aku dikasih uang jajan lebih sama ibuku,nih buat kamu sebagian”. Sifa mengambil uang dari sakunya. “gak usah sif”. Kata andi. “tidak apa-apa diii lagian aku masih ada ko uang sisanya, sesama teman kita kan harus saling menolong”. “Iya sif, terimakasih yah?”. Jawab andi.
TAMAT

Read more