Di sebuah desa
tinggalah sebuah keluarga yaitu keluarga pak hardi dan ibu Hana, beliau dikenal
sebagai keluarga yang bijaksana, pekerja
keras dan rajin. Pak Hardi mempunyai dua orang anak yaitu Sifa dan Radit. Sifa
berusia sebelas tahun dan duduk di kelas 5 sedangkan Radit masih berusia 3
tahun.
Mewarisi sifat ayah nya
sifa adalah anak yang rajin, tekun dan baik setiap. hari sifa selalu berangkat
ke sekolah pagi-pagi, bahkan sifa selalu
menjadi orang pertama yang datang ke sekolah, sebelum gerbang sekolah di buka oleh pak usman pasti sifa sudah berada di depan
pintu gerbang sekolah. “wah nak sifa
pagi-pagi udah ada disekolah sampai-sampai bapak keduluan sama nak sifa” sifa
hanya membalas dengan senyuman.
Selain rajin Sifa juga dikenal sebagai anak yang baik, sopan,
santun dan suka menolong temannya dan sifa pun sangat dicintai dan dihormati
oleh temannya. Hari ini bel masuk pun berbunyi, sifa yang sedari tadi sudah
berada di kelas langsung menyiapkan alat-alat tulis yang akan di gunakanbelajar.
Hari ini adalah
pelajaran Matematika, minggu yang lalu
Bu Riska memberitahukan agar anak-anak membawa penggaris, busur dan jangka. “anak-anak
minggu lalu ibu menyuruh kalian membawa
penggaris,busur dan jangka, maka hari ini kita akan belajar tentang
bagaimana menggunakan busur derajat dan kita akan mengukur sudut menggunakan
busur”. “Baik buuu” jawab anak-anak. Semua siswa mengeluarkan alat tulis dan
peralatan tersebut.
Vira adalah teman sebangkunya
sifa dia terlihat murung, “kamu kenapa vir, kelihatannya murung begitu?” “ini
Sif hari ini aku tidak bawa peralatan yang ibu suruh minggu kemaren soalnya pas
minggu kemaren kan aku tidak masuk jadi aku tidak tau hari ini harus bawa apa”
“ohh.. begitu, ini pake yang aku, kita
pake bareng-bareng aja dan kamu jangan murung lagi seperti tadi jelek tau,? ”
“ah kamu bisa aja.., terimakasih banyak ya Sif?” kata vira.
Bel istirahatpun
berbunyi sifa dan vira keluar kelas berlalian menuju kantin. Seperti biasa
anak-anak di SD ini selalu memburu ciloknya bu Diah. selain rasanya yang enak
juga higienis, tak heran kalau telat sedikit kekantin pasti nganti nya panjang
sampai lapangan sekolah.
Di tengah-tengah
antrian panjang sifa melihat andi yang sedang duduk di taman sekolah, andi
hanya melihat teman-temannya yang sedang jajan. Sifa pun mnghampiri andi.
”Tumben di kamu tidak ngantri beli cilok bu diah,biasanya kamu ada di barisan
pertama”. “a.a.a..anu sif tadi uang jajan ku hilang kayaknya pas lari-lari
kekantin, tadi udah aku cari lagi ke kelas tapi uang ku tidak ada.” “ohh
begitu..nih kamu jajan pakai uang aku aja kebetulan hari ini aku dikasih uang
jajan lebih sama ibuku,nih buat kamu sebagian”. Sifa mengambil uang dari
sakunya. “gak usah sif”. Kata andi. “tidak apa-apa diii lagian aku masih ada ko
uang sisanya, sesama teman kita kan harus saling menolong”. “Iya sif,
terimakasih yah?”. Jawab andi.
TAMAT
.png)
By
21.40
0 komentar